Saturday, December 20, 2008

Peluang Pengembangan VAS Pada Industri Operator Telepon Seluler di Indonesia


Pengintegrasian Layanan Telepon Seluler
dalam Rancang Bangun
LMS (Learning Management System)
di Perguruan Tinggi/Perusahaan
sebagai Layanan Nilai Tambah (VAS) Seluler
Paling Efektif dan Bermanfaat bagi Publik


Oleh: M. Fathoni dan Ranti Wiliasih


Salah satu isu penting yang akan dihadapi oleh lembaga pendidikan dan perusahaan dalam kurun waktu 10 tahun kedepan adalah transfer pengetahuan. Utamanya, transfer pengetahuan dari generasi lama ke generasi baru sebagaimana disebutkan oleh Kapp (2008) dalam bukunya “Gadget, Games and Gizmos: Tools for Transferring Know-How from Boomer to Gamer. “

Masalah ini timbul karena adanya perbedaan kebiasaan antara generasi lama (Boomer) dengan generasi baru (Gamer) dalam melakukan transfer pengetahuan. Generasi lama terbiasa melakukan transfer pengetahuan yang sifatnya know-how dalam pertemuan-pertemuan yang sifatnya fisik, seperti rapat, seminar, kelas dan sejenisnya. Sementara itu, generasi baru lebih cenderung melakukan transfer pengetahuan melalui media yang bersifat virtual di antara sesama mereka. Baik itu melalui sms, mms, email, chatting, blog maupun komunitas/klub virtual di internet yang cenderung bersifat mobile atau portable.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menjembatani transfer pengetahuan antar dua generasi yang berbeda ini? Hal ini penting mengingat dalam kurun 5-10 tahun ke depan, orang-orang dari generasi inilah yang akan mengisi kursi-kursi pendidikan dan kantor-kantor. Apabila kultur kerja yang biasa berlaku pada orang-orang generasi boomer jika dipaksakan pada generasi gamer akan dapat menyebabkan hengkangnya orang-orang muda bertalenta dari perguruan tinggi ataupun perusahaan tersebut.

Implementasi LMS dan Kelemahannya

Perusahaan ataupun lembaga yang sukses adalah lembaga yang berhasil melakukan pengelolaan pengetahuan dan proses transfer pengetahuan diantara orang-orang yang ada di dalamnya. Terkait dengan ini, sejumlah perguruan tinggi dan perusahaan maupun lembaga pemerintah mulai mengembangkan infrastruktur teknologi sistem manajemen pembelajaran terpadu yang dikenal dengan LMS (Learning management System).

Penggunaan LMS baik di kampus, kantor pemerintahan ataupun perusahaan boleh jadi digunakan dengan istilah yang berbeda-beda. Namun, tujuan dari LMS ini pada hakekatnya adalah sama. Pengadaan LMS bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan mahasiswa, karyawan, maupun pegawai tentang sejumlah hal baru di luar sana, yang tidak dapat dipelajari dalam ruang fisik karena keterbatasan waktu. Sehingga dengan demikian keberadaan LMS diharapkan dapat membantu peningkatan kapasitas individu mahasiswa, dosen maupun karyawan untuk meraih prestasi belajar dan kerja yang sebaik-baiknya.

Sayangnya, rancang bangun LMS yang ada saat ini masih terbatas pada ruang lingkup jaringan intranet, sehingga aksesibilitas para user menjadi terbatas untuk mengaksesnya. Umumnya, fasilitas ini hanya dapat dilakukan melalui komputer jaringan dan harus berada di lingkungan kampus maupun kantor. Ini merupakan kekurangan terbesar dari berbagai infrastruktur LMS yang ada saat ini karena belum terlalu mengakomodir kecenderungan generasi gamer yang cenderung lebih mobile.

Integrasi Layanan Telepon Seluler Dalam Rancang Bangun LMS


Mencermati kekurangan yang ada pada rancang bangun LMS di sejumlah lembaga pendidikan, perusahaan maupun instansi pemerintah saat ini, diperlukan suatu media yang dapat digunakan dengan baik oleh generasi boomer maupun generasi gamer. Solusi itu ada pada layanan telepon seluler. Telepon seluler tidak hanya sekedar menjadi alat komunikasi namun menjadi media belajar dan bekerja, sebagaimana telah diterapkan di industri perbankan dalam bentuk phone banking atau sms banking.

Dengan kata lain, operator telepon seluler berpeluang besar untuk membangun layanan nilai tambah atau VAS yang paling efektif dan bermanfaat bagi mitra strategis seperti perguruan tinggi, kantor maupun lembaga pemerintah yang sudah maupun berencana mengembangkan LMS di tempatnya. Adapun tema yang dapat diusung dalam membangun VAS ini adalah pengembangan SDM di era teknologi modern yang mobile.

Dengan terintegrasinya layanan telepon seluler dalam rancang bangun LMS di berbagai perguruan tinggi, perusahaan dan lembaga pemerintah, maka ini akan membantu mengurangi opportunity cost mahasiswa dan dosen maupun karyawan untuk dapat mengembangkan dirinya, dimana saja dan kapan saja. Ini adalah VAS yang secara telak dapat menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang penting dalam persaingan bisnis telepon seluler ke depan, terlebih dalam rangka turut mencerdaskan anak bangsa.

Tuesday, June 24, 2008

Blog di Era Ekonomi Pengetahuan

Saat ini, teknologi informasi berkembang begitu cepat, termasuk di dalamnya komputer & internet. Kita dengan mudah bisa mendapatkan berbagai produk teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan studi, pendidikan dan sosial-budaya seperti software program serta film edukatif. Kita pun dapat mengakses berbagai resources yang kita perlukan melalui internet secara bebas bahkan gratis.

Upaya-upaya dari berbagai pihak untuk membangun infrastruktur teknologi informasi di Indonesia perlu kita apresiasi. Karena, mereka telah menyadari lebih dulu nilai penting teknologi informasi bagi anak bangsa di masa depan terkait dengan akselerasi kemajuan bangsa Indoneisa sendiri untuk dapat maju dan bersaing dengan negara-negara lain.

Tetapi, bila pembangunan-pembangunan infrastruktur teknologi informasi tersebut tidak dibarengi dengan upaya-upaya penyadaran dan penanaman nilai penting teknologi informasi kepada anak bangsa sejak sekarang. Khususnya untuk mentransformasikan diri dari sekedar pengguna (user) menjadi penghasil (producer) informasi dan ilmu pengetahuan. Akan menjadi amat disayangkan bilamana bangsa Indonesia hanya menjadi bangsa pemakai dan bukan bangsa penghasil.

Padahal, saat ini kita tengah memasuki era ekonomi pengetahuan yang mengandalkan olah pikir. Ilmu pengetahuan, teknologi dan kualitas SDM memegang kunci penting untuk bersaing. Selain itu, Nilai tambah suatu barang dan jasa bukan melulu ditentukan oleh besarnya modal yang tertanam dalam produksinya. Melainkan oleh tingkat pengetahuan yang tertanam di dalam produk dan jasa tersebut. Sehingga, saat ini mulai terjadi pergeseran pola produksi dari padat modal ke padat pengetahuan.

Maraknya fenomena blog dan blogger Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong transisi baru masyarakat Indonesia dari pengguna pengetahuan (knowledge user) menjadi penghasil pengetahuan (knowledge producer). Hal ini merupakan indikasi positif akan hadirnya sebuah generasi baru anak bangsa Indonesia yang lebih ekspresif, bisa berpendapat, memiliki kepedulian terhadap sekitarnya serta bila didukung kemampuan berbahasa yang baik, akan mendorongnya menjadi bagian dari warga dunia yang saling terhubung satu sama lain untuk bersama-sama memecahkan berbagai persoalan dunia, seperti perubahan iklim global.
Ya, kehadiran blog dan blogger Indonesia memungkinkan berbagai pihak yang berkepentingan di Indonesia untuk membangun relasi-relasi sosial yang bila diarahkan dengan benar, akan memunculkan suatu rantai nilai sosial bersama dalam menjawab persoalan dan tantangan global.
British Council Indonesia sebagai salah satu lembaga yang juga memiliki kepentingan dalam pengembangan dan pertukaran kebudayaan masyarakat, khususnya di Indonesia ini tengah merayakan ulang tahunnya yang ke-60. Napak tilas perjalanan hubungan Inggris-Indonesia dari masa lalu hingga sekarang hendaknya menjadi ruang bersama untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi kemajuan bersama . Dan inilah yang tengah menjadi agenda refleksi dan reposisi aktivitas British Council Indonesia dalam menjalankan perannya yang salah satunya sebagai lembaga pertukaran budaya.

Ada tiga fokus agenda kerja dari British Council Indonesia dalam suasana refleksi perayaan ulang tahunnya yang ke-60. Ketiga fokus agenda kerja itu meliputi: a. Dialog antar budaya, b. Kreativitas dan Ekonomi Pengetahuan, serta c. Membangun jejaring gerak bersama untuk perubahan iklim. Selain itu, juga untuk mensosialisasikan ’blog’ sebagai media personal dalam persebaran implementasi agenda kerja mereka tersebut.

Saat ini, keberadaan blog telah menjadi sebuah kekuatan pendukung yang luar biasa dalam menumbuhkan rantai nilai masyarakat Indonesia di era ekonomi pengetahuan. Upaya menumbuhkan rantai nilai sebetulnya berangkat dari hal yang sederhana. Bahwa setiap diri kita sebetulnya terhubung satu sama lain dengan menjadi bagian dari komunitas-komunitas masyarakat seperti tempat kerja, kelompok pengajian, bertetangga, hingga bernegara. rantai nilai baru tumbuh ketika setiap kita mencoba meningkatkan kualitas hubungan dalam dan antar komunitas-komunitas tersebut. Dan blog membuka peluang kontribusi yang besar dari setiap orang untuk merancang agenda-agenda bersama.

Monday, May 26, 2008

WC Umum dan kebersihan lingkungan

Rasa-rasanya saat ini sudah tidak ada yang namanya WC gratis di negeri ini, terutama di tempat umum seperti stasiun, pasar tradisional, terminal yang notabene semuanya tempat yang sangat biasa di akses masyarakat golongan menengah ke bawah, semuanya harus bayar. Untuk buang air kecil saja harganya 1000 sampai dengan 1500, sedangkan untuk mandi bisa 2000 an.
kalau pun ada yang gratis, pastilah tempatnya sangat tidak layak untuk dijadikan tempat buang hajat. Terutama dari segi aromanya yang bikin perut mules, mual-mual atau bahkan hampir muntah.
Suasana ini sangat kontras dengan bandara internasional, ataupun mall-mall besar, gedung perkantoran, hotel, yang semuanya biasa dikunjungi oleh kalangan menengah ke atas. Di tempat-tempat ini sudah ada petugas yang senantiasa membersihkan daerah KM dan sekitarnya. Buang hajat gratis, meski terkadang tidak ramah lingkungan (tidak ada air buat membasuh-walaupun bisa pakai kertas, cuma rasanya tidak nyaman kalau lagi bAB, heheh). Kita gratis ditempat-tempat ini, karena secara tidak langsung kita telah bayar melalui apa yang kita beli/sewa atau bayar. Tanpa disadari kita dikenakan uang itu, sehingga terkadang harga untuk satu barang dengan kualitas yang sama jauh lebih mahal dibandingkan dengan pasar tradisional.
Kembali kepada bahasan WC umum, disadari atau tidak sebenarnya pasarisasi WC umum di tempat-tempat publik atau fasilitas umum, tidak berdampak baik pada usaha-usaha menjaga kebersihan. Apalagi untuk tempat-tempat yang banyak di akses oleh masyarakat menengah ke bawah. Sebagai ilustrasi, jika disekitar pasar, MCK harus bayar, maka mereka yang uangnya pas2 an (apalagi saat ini BBM sedang naik), maka mereka akan lebih memilih untuk buang hajat sembarangan. Apalagi untuk laki-laki yang (imannya tidak kuat) cenderung biasa untuk melakukan hal ini sembarangan. Bisa dibayangkan kan? Jika ada sepuluh atau lebih orang melakukan hal ini. Pasar akan bau, jorok, dan tidak sehat. Akibatnya sudah pasti pasar akan dijauhi orang-orang. Maka pemberdayaan pasar menjadi pasar yang bersih pun akan gagal. Ini hanya satu contoh.
Mungkin pemerintah perlu memikirkan hal ini. Minimal untuk tempat-tempat yang merupakan fasilitas umum, disediakan MCK gratis, dan tidak cukup dengan itu, mungkin masyarakat perlu dididik pentingnya menjaga kebersihan. Kalau perlu tindak tegas mereka yang tidak hidup bersih sehingga masyarakat jadi disiplin dalam menjaga kebersihan. Tidak instan, dan dibutuhkan kesabaran. Karena China dan Singapura saja butuh waktu 30 Tahun untuk mendidik masyarakatnya supaya bersih.................Indonesia butuh berapa tahun ya kira2? Puluhan? atau Ratusan?

Friday, April 11, 2008

Kritik: Tujuan dan Cara

Berbicara mengenai kritik, tentunya hampir semua kita pernah mengalami yang namanya di kritik. Dimana-mana yang namanya di kritik itu ga enak. Ada satu bagian dari diri kita yang rasanya tepojok dan tercabik, itulah ego. Karena ego, biasanya selalu melihat diri kita benar dan benar, sebaliknya orang lain yang salah.

Akhir-akhir ini, ramai diberitakan media gugatan DPR terhadap kelompok musik SLANK yang dinilai telah mengkritik DPR. Tidak peduli mereka benar atau salah, yang jelas DPR tidak suka di kritik oleh SLANK. Itulah contoh dari sebuah ego yang dominan.


Berbicara mengenai kritik, saya jadi terpikir mengapa kritik itu timbul? apa tujuan orang mengkritik? kalau kita berfikir negatif, bisa jadi kita melakukan pembelaan bahwa orang kritik itu karena dia tidak mampu, atau ada pihak lain yang iri, sirik, dan sejenisnya. Tapi, kita kan selalu diajarkan untuk berfikir positif berbaik sangka (karena kebanyakan dari buruk sangka itu dosa), maka kita akan melihat bahwa orang mengkritik karena ada sesuatu yang salah, atau sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dan tujuan orang mengkritik itu, ya supaya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, dengan memperhatikan apa yang dikritik pihak lain.


Kalau begitu, kita supaya tujuan ini efektif, maka yang penting dari sini adalah bagaimana cara kritik itu di kemas. Saya sebagai manusia jelas ga suka kalau harus menerima kritik, tapi saya mempunyai seorang teman, dimana saya suka dikritik oleh beliau. Mengapa? Pertama, dan yang paling saya suka adalah cara mengkritiknya yang menyenangkan, tidak membuat saya terpojok dan sakit hati. Kalaupun saya pernah merasa down dengan kritiknya, namun secepatnya dia mengangkat mental saya kembali. Itu yang saya suka. kedua, adanya kesadaran dari diri saya sendiri yang menganggap bahwa kritikan daro teman saya ini akan baik untuk proses pengembangan diri dan proses pembelajaran diri. Sebaliknya, saya sangat sebal dikritik sama orang yang tidak punya etika, berani mengkritik di belakang dan sebagainya. meskipun yang dikritik baik, namun karena cara penyampaiannya tidak dikemas dengan baik, maka kritik tersebut menjadi tidak efektif.


Dalam suatu riwayat, ada hadits dimana jika seorang istri salah, maka ia harus diberi tahu dengan cara-cara yang baik, kalau dengan kata-kata yang baik tidak mempan, maka seorang suami boleh memukul istrinya, jika tidak berubah juga, maka seorang suami bisa bersikap tegas dengan memisahkan tempat tidur istri. dari sini jelas bahwa kita diajarkan untuk melakukan kritik dengan cara-cara yang baik.

Kritik dalam Islam merupakan bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Sesungguhnya mencegah kemungkaran adalah fardhu kifayah. Sebagaimana disebutkan dalam dalam surat Ali Imran ayat 110 disebutkan bahwa "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah SWT. meski demikian tetap ada etika dan akhlak dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar diantaranya seperti melakukan dengan lemah lembut, tidak anarkis, ataupun tidak merusak. Selain itu, agar apa yang disampaikan, maka pihak yang menyampaikan pesan atau kritik pun harus lebih baik, sehingga apa yang disampaikan menjadi efektif.

Kembali ke kritik, bahwa dengan berorientasi kepada tujuan adanya perubahan yang lebih baik, maka kritik hendaknya disampaikan dengan cara-cara yang baik, tidak anarkis dan kekerasan, dan yang menyampaikan kritik pun bisa menunjukkan contoh yang lebih baik minimal dari dirinya sendiri.

Tuesday, March 11, 2008

Ketika materi menjadi sebuah kacamata

Biasanya, jika mata kita tidak bisa berfungsi secara normal untuk melihat maka kita akan menggunakan alat bantu yang namanya kacamata. Kacamata juga digunakan untuk melindungi mata dari sinar matahari dan juga debu dan kotoran, terutama di musim panas. Tapi dalam keseharian makna kacamata sering bergeser dari makna denotasi ke makna konotasi. Misalkan saat kita menjadi orang yang cuek, ga peduli kiri kanan, tebal muka atau muka tembok, maka kita akan disebut menggunakan kacamata kuda.

Dalam kehidupan nyata, dimana kita kenal dan berinteraksi dengan banyak orang, kita juga mengenakan mata. Namun mata yang ini tidak hanya sekedar mata yang biasa kita gunakan untuk melihat, namun kita juga perlu menggunakan mata lain yaitu mata hati atau mata batin. Mengapa? Karena jika kita hanya melihat seseorang hanya dari mata telanjang. Maka yang kita lihat hanya apa yang tampak, padahal seseorang itu jauh lebih kompleks dan lebih rumit dari sekedar apa yang terlihat oleh mata biasa kita.

Seseorang yang terlihat cuek, mungkin hatinya baik. Atau seseorang yang tampilannya necis bisa jadi pencopet di kereta atau bis. Di sinilah dituntut kepekaan mata batin kita dalam menilai dan untuk kemudian memahami seseorang.

Satu hal yang lebih buruk selain hanya melihat dengan mata telanjang, adalah melihat seseorang dengan kacamata yang frame nya materi. Kita hanya akan melihat ih dia ga cantik, ih dia ga kaya, ih dia bukan golongan dan kelas gue, ih dia bajunya murahan. ketika kita menggunakan materi sebagai frame, maka kita akan secepat kilat membuat black list jika seseorang tidak masuk dalam kategori ideal (katakan: cantik, kaya, pintar, putih, berkelas, dll). Lebih lanjut, kita akan membangun jarak dengan orang-orang di luar kategori ideal ini, dan pada akhirnya akan membangun dinding untuk tidak berhubungan dengan mereka.

Bagi saya sikap seperti ini jelas tidak hanya tidak manusiawi, tapi juga tidak mencerminkan aspek tauhidi dalam kehidupannya. Mengapa demikian? karena seseorang yang beriman kepada Allah, juga beriman kepada kitab2nya, berimana kepada taqdir yang baik dan yang buruk, disamping kepada malaikat, nabi dan rasul Allah dan juga hari kemudian. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah akan menyempitkan dan meluaskan rejekinya bagi siapa yang Dia kehendaki, Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Artinya, miskin bisa jadi bukan suatu cacad atau aib jika seseorang sudah berusaha maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidup dna keluarganya secara maksimal. Akan dikatakan aib, jika seseorang malas atau tidak mau bekerja kemudian hanya menyandarkan hidupnya pada orang lain. BUkan suatu aib, jika seseorang hidupnya hanya masuk golongan menengah ke bawah. Dan bukan sesuatu yang aib jika seseorang terlahir tidak cantik, bukan suatu aib jika seseorang lahir dengan keterlambatan mental. Dalam Al Quran juga disebutkan bahwa apa yang kita miliki juga hanya titipan. Harta, anak, istri, semuanya hanya perhiasan dunia, yang suatu saat siap untuk diminta kembali oleh Yang Maha Hak. Bahkan tubuh yang kita bangga-banggakan kecantikan dan ketampanannya pun bukan milik kita, Allah berhak memintanya kembali kapan saja. Entah itu sebagian atau keseluruhan. Apa yang kita banggakan hidup di dunia ini? Dunia ini hanya sementara, kita diberi kesempatan di dunia ini, diberi kelengkapan dengan tubuh yang sempurna beserta akal dan pikiran untuk menjadi seorang khalifah di muka bumi. Tugas khalifah, adalah mengelola bumi dan isinya (lingkungan) untuk kemudian saling berbagi kepada sesama, mewujudkan rahmatan lil alamin yang semuanya dalam rangka ibadah kepada Sang Maha Pemberi Hidup. Sebagai khalifah menurut hemat saya, dan apa yang saya baca dari buku-buku manusia diberi kebebasan. Namun kebebasan ini harus dapat dipertanggungjawabkan, dengan cara memberikan rambu-rambu mana yang harus dilalui dan mana yang harus dihindari. Diantaranya dengan tidak melakukan kerusakan di muka bumi ataupun berbuat curang, atau tidak mau berbagi kepada sesama. Contoh kecilnya, ibarat seorang ibu yang memberi uang jajan kepada anaknya, sang ibu tentunya ingin agar uang tersebut digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Bukan dibelikan rokok, atau sesuatu yang memberikan keburukan untuk si anak.

Nah, jika kita menggunakan materi dalam melihat seseorang maka kita akan berjarak dengan orang-orang di luar frame ideal kita. Padahal mereka juga makhluk Allah dengan segala kekurangan yang harus kita hormati, kita sayangi, dan kita perlakukan dengan baik sebagai bagian dari konsep hablumminallah dan hablumminannas. Kata nass di sini tidak hanya orang Islam (muslim) namun juga manusia. Masih teringat saya akan riwayat yanng menceritakan kebiasaan Rasulullah yang senantiasa memberi makan seorang pengemis yahudi yang buta di dekat pasar madinah. Rasulullah melakukannya dengan kelembutan hatinya, dengan cara melumatkan makanan tersebut terlebih dahulu kemudian menyuapi si pengemis. Padahal si pengemmis buta tersebut senantiasa mencaci maki Rasulullah dan mengatakan bahwa Muhammad gila. Tapi Rasulullah tetap melakukan kebiasaannya itu, tanpa pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Muhammad yang selalu di caci maki pengemis tersebut. Subhanallah, demikian mulianya perilaku Rasulullah. Membaca riwayat ini tidak hanya membuat saya berlinangan air mata, namun membuat saya merasa bahwa pribadi saya masih demikian jauh dibandingkan beliau. Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan akhlak dan kepribadiannya yang demikian mulia. Saya, dan mungkin umat muslim lainnya menyatakan bahwa beliaulah tauladan , Sunnah beliau yang saya dan muslim lainnya ikuti. Namun perbuatan saya ternyata masih jauh dari sunnahnya.

Kalau kembali ke topik awal tentang kacamata materi. maka sudah menjadi lebih jelas, bahwa dengan kaca mata materi rasanya perilaku kita akan semakin jauh dari perilaku Rasulullah. Kita bukan orang yang sempurna, namun minimal kita berusaha untuk berbuat menuju kesempurnaan.

Memaknai Sabar

Sekitar 3 tahun yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman yang lebih senior dibandingkan saya. Saat itu yang kami bincangkan adalah mengenai sabar. Teman saya bilang, orang seringkali keliru dalam memaknai kata sabar. sabar selalu identik dengan pasrah, menerima apa adanya. Seperti contoh ketika kita dituduh melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, kita diam. Itu sabar. Atau ketika misalnya kita sakit, kita dianjurkan untuk bersabar. Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai kita disuguhi kata sabar oleh semua orang. Ketika kita tidak berhasil mencapai sesuatu yang kita inginkan kita dianjurkan untuk sabar. itulah sabar yang akrab di keseharian kita menerima sesuatu dan pasrah. Tapi sebenarnya, kata sabar itu tidak seperti itu. Menurut hemat saya, seseorang dikatakan sabar itu adalah orang yang menerima keadaan dan tapi tetap berusaha untuk menjadi lebih baik. sebagai contoh ketika seseorang sakit dia terima sakitnya namun tidak lantas berdiam diri menunggu kesembuhan datang akan tetapi tetap berusaha bagaimana agar segera sebagaimana sediakala. Ketika kita tidak berhasil menggapai suatu target, sabart bukan berati hanya menerima namun tetap berusaha meskipun berbagai aral melintang datang menghadang. Begitulah kata teman saya. Saya juga teringatkemuliaan antara orang miskin yang sabar dengan orang kaya yang bersyukur. Orang miskin yang sabar mungkin bukan orang yang pasrah ketika tidak ada lowongan pekerjaan, kemudian memilih jadi peminta-minta. Namun orang miskin yang sabar adalah orang yang tetap berusaha bekerja sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Karena islam, sebagai agama yang menurut saya universal, telah menggariskan bahwa manusia sebagai seorang khalifah di muka bumi ini, diberikan kebebasan untuk memakmurkan bumi, bekerja dengan bekal akal budi yang dimiliknya. Kecuali orang-orang yang renta, dan cacat secara fisik.
Kembali ke konsep sabar Arvan Pradiansyah dalam suatu talk show di radio pernah bilang, bahwa yang namanya sabar adalah menyatukan hati dan pikiran dengan apa yang sedang dihadapi. Sebaliknya orang yang tidak sabar adalah yang tidak bisa menyatukan pikirannya dengan apa yang sedang dihadapi. Misalkan ketika sedang di kantor, memikirkan pulang lewat jalan mana sehingga tidak kena macet. Nah ini kira-kira contoh tidak sabar menurut beliau.

Dulu saya pernah mendengar mengatakan bahwa sabar adalah tingkatan yang paling rendah sebelum mencapai sikap ikhlas dan ridho. Nah lo? Terus sabar gimana dong....

Kalau dihubungkan dengan pendapat teman saya yang diatas seperti apa ya? Hmm mungkin saya bisa menyatukan keduanya. Saya memandang sabar sebagai sebuah sikap dimana kita tetap on the track. Misalkan sabar ketika ditinggalkan orang-orang tercinta, kita dikatakan sabar jika bisa menerima hal itu dan dapat kembali melanjutkan hidup seperti sebagaimana biasa. Ketika sakit, sabar kita berusaha agar dapat sembuh sebagaimana biasa. Sabar ditempat kerja berarti kita dapat melakukan segala aktiftas sesuai schedul dan target yang diberikan dengan penuh konsentrasi. Demikian juga sabar ketika kita difinah, kita bisa menunjukkan bahwa kita tidak bersalah tanpa perlu membalas dendam, atau sabar dalam mencapai suatu tujuan adalah tetap semangat dengan rencana-rencana yang kita susun agar tujuan kita tercapai. Gitu kali ya.....

Bagaimana dengan sabar dalam shalat? ya tetap on the track dengan jalan memusatkan pikiran agar bisa khusuk, bukankah inti sholat ada pada khusu'nya bukan sholatnya. Dan sabar itu sangat mulia, karena Allah selalu beserta orang-orang yang sabar. Amiin

Saturday, March 08, 2008

menikmati dan merasakan

Yang namanya menikmati dan merasakan biasanya sesuatu yang identik dengan kenikmatan, kelezatan, kesenangan, keindahan, kemewahan dan semua yang enak lainnya. Itu sesuatu yang wajar dan lumrah. Karena sayang rasanya sesuatu yang bagus jika kita lewatkan begitu saja ntah itu film, buku, lagu, makanan dan apalah namanya.
Tapi bagaimana dengan sesuatu yang tidak menyenangkan? Macet, hujan, banjir, sakit, bete, dijauhin teman dll. Ternyata untuk hal-hal yang tidak menyenangkan ini pun sebaiknya kita nikmati. Mengapa? Pertama, jika kita berkeluh kesah dengan hal tidak menyenangkan yang kita alami, maka akan membuat pikiran kita ruwet, dengan pikiran ruwet akan susah menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Otak kita serasa beku, sehingga kita tidak bisa menyelesaikan masalah yang saat ini kita hadapi. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak baik untuk kesehatan mental dan fisik kita. Kedua, ketika kita menikmati suatu kondisi tidak enak, maka ketika kita dalam kondisi normal, maka kita dapat menjalani, menikmati dengan rasa syukur. Seringkali kita kurang bersyukur ketika kita sehat, kurang bersyukur memiliki teman yang care, kurang bersyukur dengan pimpinan yang pengertian. Kita acap merasa kurang puas dengan apa yang kita dapatkan. Kita sering mengeluh ketika makanan yang kita nikmati kurang garam, atau terlalu banyak garam. Padahal, banyak orang di dunia ini yang untuk makan tiga kali sehaaripun tidak bisa. Dengan menikmati sesuatu yang tidak enak, kita jadi bisa bersyukur atas segala nikmat yang kita rasakan. Bukankah Allah berjanji bahwa Ia akan menambah kenikmatan Nya jika kita bisa bersyukur? Tapi kok kita sering mengabaikannya ya :)

Tuesday, February 26, 2008

Seorang anak dengan kompeng di Busway

Saya sempat menyesal mengapa memilih untuk naik busway ketimbang naik kereta dalam perjalanan dari Depok ke Jakarta. Tadinya saya takut kelamaan nunggu kereta, maklum jadwal kereta yang kadang tepat namun lebih sering telat. Akhirnya saya pun memilih busway dengan harus ke Pasar rebo terlebih dahulu. Ternyata si Mr. B tak kunjung datang. Jalan dari Kampung rambutan kea rah Pasar Rebo pun tersendat. Setelah sekian lama akhirnya Mr. B yang ditunggu pun datang. Alhamdulillah masih dapat duduk sesuai dengan harapan di awal, kondisi ini agak menghibur.
Seperti biasa saya suka lihat sana sini, kalau kebetulan tidak bawa buku untuk di baca. Di depan seorang Bapak berdiri. Beliau membawa paying lipat. Kemudian paying lipatnya dimasukkan ke dalam kantong. Ternyata musim hujan, kantong tidak hanya menyimpan dompet, hp tapi juga payung.
Di antara mereka yang duduk di deretan bangku di depan saya, seoang ibu memangku anaknya. Anaknya menurut saya sudah tidak lagi kecil. Mungkin sudah diatas 3 tahun. Namun anehnya si anak masih mengisap kompeng. Hmmm, saya jadi teringat dengan salah satu tayangan reality show di metro Teve tentang The Nanny 911 di Minggu sore beberapa waktu yang lalu, seoang anak yang diatas 1,5 tahun (atau 1 tahun ya?) sepertinya sudah tidak pantes untuk pakai kompeng. Karena hal ini akan mempengaruhi kemandirian mereka. Itu mungkin benar, kalau saya perhatikan tingkah anak yang dipangku ibunya, meskipun masih kecil tapi sangat kelihatan ketidakmandirian si anak. Semuanya ingin dilayani. Bawaannya ngambek dan maunya serba dilayani. Saya tidak tahu bagaimana hubungan antara kompeng dengan kemandirian. Namun mungkin perlu diteliti lebih dalam. Terus terang ini mengurangi rasa menyesal saya nunggu busway yang lama, karena mengingatkan saya akan sesuatu yang mungkin akan berguna buat saya di suatu hari nanti.

Lansia, Cucu dan Kebenaran

Sore tadi, pada acara presentasi riset unggulan di kampus UI Depok, salah satu topic penelitiannya adalah tentang bagaimana melibatkan lansia dalam budidaya mikroalga, sekaligus berapa besar potensi ekonomi yang bisa didapatkan. Menurut Reviewer yang menarik dari topic ini adalah pemberdayaan lansianya. Di Indonesia, lansia masih dianggap tidak berdaya, merepotkan dan tidak memiliki kontribusi terhadap perekonomian. Hal ini berbeda dengan kondisi di negara lain seperti Jepang, Singapura, atau negara lain, dimana lansia diberdayakan untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif.

Ada yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Ary Suta, bahwa dirinya juga mencemaskan, seperti apa nanti masa tuanya. Menurutnya, menjadi lansia harus memiliki daya tarik. Karena kalau lansia tidak memiliki daya tarik, cucu tidak akan datang. Tapi kalau seorang lansia memiliki daya tarik, maka cucu-cucu akan datang dengan sendirinya. Dan daya tarik seorang lansia itu terletak pada yang namanya uang dan derivasinya. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena inilah kenyataannya saat ini. Hiii saya jadi teringat dengan anak sepupu saya yang tidak mau diajak ke rumah kakeknya karena alasan rumah kakeknya jelek. Saya pun jadi teringat dengan Bapak, akankah saya mampu mendidik anak-anak yang tidak melihat segala sesuatunya dari materi? Mengingat saat ini setiap orang dijejali dengan materialisme dari mulai bayi sampai lansia. Saya juga jadi memikirkan, seperti apa hari tua saya nanti? Apakah hanya menyusahkan atau justru bisa memberikan manfaat sampai dengan akhir kehidupan ini.

Kembali kepada penelitian tentang mikroalga, ternyata mikro alga memiliki banyak manfaat. Selain sebagai salah satu sumber energi alternative untuk bioenergi, tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan untuk kosmetik, suplemen makanan dan dapat menyerap polutan (udara yang kotor). Berdasarkan informasi tanaman ini sangat mudah dikembangbiakkan dan sangat subur jika dikembangkan dengan menggunakan limbah WC rumah tangga. Mungkin ini salah satu kemahabesaran Tuhan, kotoran yang kita keluarkan pun masih memiliki manfaat dalam keberlangsungan ekosistem di sekitar kita. Benar kata seorang Profesor yang pernah memberikan mata kuliah pada pelatihan penulisan proposal beberapa saat lalu. Kita mungkin tidak bisa menemukan Tuhan di dunia ini, namun salah satu cara untuk menemukan Tuhan adalah dengan menemukan semakin banyak kebenaran. Dan mencari kebenaran adalah proses yang terus menerus. Salah satu caranya adalah dengan meneliti dan terus meneliti...

Friday, February 22, 2008

Cerdas

Disadari atau tidak, terkadang karena sesuatu dan lain hal kita seringkali menjadi tidak cerdas dalam hidup ini. Kalau saya biasanya panik seringkali menjadi penyebab yang membuyarkan semuanya. Contohnya, suatu hari saya mencoba menghubungi seseorang untuk menginformasikan sesuatu, karena tidak bisa dihubungi saya sms, apakah bisa di call? Ternyata lagi di luar negeri..Hmm, saya janji akan menghubungi setelah dia kembali ke tanah air. Dan ketika hari itu datang saya lupa dan jadilah informasi itu terlewat begitu saja. Padahal informasi itu mungkin penting artinya bagi seseorang itu. Saya mencoba berfikir mundur, seandainya waktu itu saya informasikan saja hal tersebut via sms tanpa harus telp mungkin masalahnya selesai. Tapi itulah yang saya katakan, kita atau saya seringkali bertindak kurang cerdas.
Kemarin suatu kasus, saat kehilangan dompet di Bajaj. Ketika saya mencoba menelusuri dan mencari info tentang bajaj yang membawa saya, saya dapat informasi bahwa sopir Bajaj sudah melapor ke Satpam. Ketika hal itu saya konfirmasi ke satpamnya, Dia jawab tidak ada, tapi salah seorang petugas karcis parkir nyeletuk, "Tadi memang Ada, sopir Bajaj bawa Dompet ke sini, Namun saya (petugas parkir) bilang, "Ga ada yang kehilangan Bang" ......Jadi Si Abang Bajajnya pergi karena keburu ada penumpang" .....Seketika saya ternganga. Kenapa jawaban yang dilontarkannya seperti itu. Seandainya petugas parkir tersebut, mau sedikit saja berempati membuka dompet itu pasti dia akan menemukan identitas saya yang ada logo kampusnya ...:(
Ya...itulah salah satu contoh kurang cerdas yang merugikan orang lain dan itu juga alasannya mengapa kita harus berfikir cerdas dan bertindak cermat, tidak hanya dalam ujian kualifikasi tapi juga dalam ujian hidup keseharian. :)

Negara Prosedural

Hari ini saya merasa bahwa negara ini adalah negara yang sangat prosedural, kaku dan tidak pada tempatnya. Kemarin saya dengar dari orang, tapi hal ini saya alami sendiri siang ini ketika hendak mengurus surat keterangan hilang di kantor polisi. Paginya, dompet saya terjatuh di bajaj, pada saat saya akan membayar bajaj. Setelah melakukan urusan blokir memblokir urusan selanjutnya adalah melapor ke polisi untuk meminta surat keterangan hilang. Tapi apa yang terjadi? Petugas polisi yang melayani masyarakat meminta identitas saya. kebetulan saat itu saya tidak punya identitas apapun karena semuanya ada di ATM. Tapi si Pak Polisi ngotot dan tidak bisa membuat surat keterangan hilang. Minimal minta surat RT dan Kartu Keluarga. Surat keterangan RT siang2 begini? Pastilah Pak RT nya bekerja karena negara belum bisa membayar gaji seorang RT, kartu keluarga? berarti saya kan harus pulang ke rumah. Sementara saya butuh surat keterangan hilang yang cepat agar bisa mengurusATM dan sebagainya................
Saya bilang, " Kok Bapak mempersulit masyarakat" Jawabnya ini masalah prosedural bukan mempersulit. Ya, ini prosedural yang menyulitkan jawab saya sambil pergi. Bayangkan betapa susahnya hanya untuk mengurus surat keterangan hilang. Saya bayangkan bagaimana orang-orang yang nasibnya yang jauh tidak beruntung dibandingkan saya, Mungkin akan diperlakukan lebih buruk lagi....Begitukah pelayanan? Apa iya prosedur seperti ini benar?
Mungkin bukan hanya masalah ini saja prosedur di Indonesia berbelit-belit. kemarin ketika ada acara FGD pengusaha sepatu. salah satu manager di Perusahaan sepatu X cerita bahwa prosedur untuk meminta surat keterangan sangat berbelit. Misalkan dalam mengurus surat keterangan impor, Untuk mendapatkan bayaran dari pihak importir di negara tujuan butuh yang namanya cargo receipt, Cargo receipt ini baru bisa dikeluarkan kalau ada keterangan (form) dari Departemen Perdagangan, dan surat dari Depdag ini baru bisa didapatkan setelah ada BL, yang hanya bisa dikeluarkan jika kapal yang membawa barang sudah berangkat. Padahal kapal berangkat tidak bisa dipastikan, harus menunggu muatan atau jadwal keberangkatan yang tidak bisa setiap saat. Bayangkan dengan cashflow perusahaan, kalau ternyata kapal masih harus menunggu sebulan dua bulan :p.
Kasus lain, untuk mengurus legalitas usaha yang syaratnya harus ada NPWP, NPWP yang syaratnya hrus ada surat ket A keterangan B, dsb....duh repot deh. Tapi inilah potret Indonesia, negara saya ......... katanya Right or Wrong is my country :(

Saturday, February 16, 2008

ketika sakit

Siapapun yang pernah merasakan sakit, pasti akan merasakan bahwa sakit itu tidak enak. Minimal, ketika sakit datang, kita tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Belum lagi kepada hal lain-lain seperti badan yang tidak enak, pegal, tidak selera makan, dsb dsb........Itu, makanya sehat menjadi sesuatu yang harus disukuri. Sehat merupakan nikmat yang luar bisa, namun seringkali kita sepelekan. Sringkali kita mengukur bahwa yang namanya rezeki itu harus berbentuk materi, padahal kesehatan mental maupun fisik merupakan aset untuk melakukan banyak hal, termasuk salah satunya adalah mencari rezeki di bumi Allah.
Kembali kepada sakit, kenapa sakit? Ada beberapa hal. 1) sakit merupakan akibat dari kelalaian kita dalam memberikan hak jasad kita secara adil, sehingga mengganggu keseimbangan tubuh. 2) sakit bisa jadi peringatan baik pada kita atau keluarga kita atas sesuatu kesalahan yang mungkin kita lakukan, dan yang 3) sakit merupakan media, untuk membersihkan diri, karena ketika kita sakit dosa-dosa kita dilebur, dan ini merupakan nikmat dari tidak enaknya sakit yang kita rasakan.
Namun sebagai manusia normal tentunya kita lebih memilih sehat, karena kita bisa melakukan lebih banyak hal termasuk beribada. Namun ketika kita sakit pun kita bisa melakukan banyak hal termasuk beribadah, dengan istighfar, dzikir dan bersyukur karena diberikan nikmat untuk melebur dosa kita kepada Sang Pencipta :)

Tuesday, February 05, 2008

Menulis itu tidak lebih mudah dari sekedar mengkritik....

Lama sudah saya tidak mengupdate tulisan di blog ini. Hampir setahun, 9 bulan tepatnya. Banyak hal yang ingin dituliskan, tapi begitu banyak juga hambatan untuk melakukannya. Jujur saja, bukan sesuatu yang mudah untuk menulis. Berbicara jauh lebih mudah.
Makanya saya sangat apreciate kepada orang yang bisa membuat buku. Apalagi yang bukunya best seller. Satu hal yang dapat saya nilai dari mereka, kecintaan mereka dalam menulis (entah apapun motifnya) telah mengalahkan yang namanya malas dan sebangsanya.
kebanggaan, kekaguman dan takzim saya kepada ilmuwan muslim dengan karya mereka yang best of the best seller. kelebihan mereka, adalah menguasai lebih dari satu bidang ilmu. Ya, politik, ekonomi, sosial, kedokteran, astronomi, namun tetap menempatkan agama sebagai inti dari semua ilmu. Terlebih kepada mereka-mereka yang telah meriwayatkan hadits, mereka-mereka yang hapal dengan bagian-bagian Al Quran sehingga dapat kembali menuliskannya menjadi sebuah mushaf agung yang otentik.
Sebaliknya saya sangat sebel bahkan teramat sebal dengan orang-orang yang bisanya cuma ngomong, ngeritik, tapi tidak bisa menunjukkan bahwa dia bisa melakukan lebih baik yang dikritiknya. Ya, seperti halnya penonton sepak bola. Tapi jujur saja orang-orang seperti inilah yang banyak ditemukan di negeri kita, dan kebiasaan ini harus segera di rubah.

Saturday, May 12, 2007

Cantik dan Kapitalisme

Sekilas memang mungkin akan sangat jauh mengaitkan antara cantik dan kapitalisme. Namun di era globalisasi ini apa sih yang ga mungkin, jarak anta kutub aja bisa sangat dekat, apalagi cuma antara cantik dengan kapitalisme. Sistem pasar bisa menjadikan keduanya menjadi dekat, bahkan teramat dekat. Kok bisa? Mari kita bahas.

Saat ini, ketika kita berbicara tentang cantik pasti selalu akan merujuk ke makhluk yang berjenis kelamin wanita. Kayaknya belum ada tuh bicara cantik yang ditujukan kepada kaum adam. Nah ketika orang disuruh membuat semacam persepsi tentang apa itu cantik, maka saat ini orang umumnya akan membuat sebuah ilustrasi bahwa cantik itu identik dengan putih, mulus, langsing, rambut lurus, semampai. trus apa lagi ya, setidaknya itu. Nah cantik yang demikian itu kan cantik sesuai yang diiklankan oleh media ataupun produk-produk kecantikan.
Karena cantik selalu merujuk kepada kriteria-kriteria di atas, maka walhasil orang berlomba-lomba untuk memakai produk-produk kecantikan yang bisa bikin putih, bikin mulus, bikin langsing, bikin ga jerawaratan. Nah disini nih, dengan menjual isu cantik, orang-orang jadi sangat tergantung pada produk-produk kecantikan, make up, perawatan diri, alat pelangsing dll. Bahkan mantan puteri Indonesia, Artika Sari Devi konon di bayar 1 M dengan mengiklankan produk pelangsing tubuh dari singapura yang pembayarannya boleh dicicil sekian ratus ribu setiap bulannya. Dengan menjual cantik seorang wanita rela menghabiskan uangnya beratus-ratus ribu setiap bulannya ke salon-salon kecantikan dan juga untuk belanja produk-produk kecantikan. Huah, suatu jumlah yang mungkin akan sangat banyak nilainya bagi seorang pemulung jalanan yang mungkin hanya bisa mendapatkan uang dibawah 10 ribu per hari dari hasil mengumpulkan barang bekas....ironis kan......

Disadari atau tidak, tema tentang cantik telah dieksploitir sedemikian rupa oleh kaum kapitalis sehingga dengan demikian mereka bisa memasarkan produk kecantikan dari ujung rambut ke ujung kaki dan mengeruk keuntungan sebesar mungkin. Sesuatu yang secara natural memang telah menjadi impian seorang wanita untuk menjadi cantik, dieksploitis demi keuntungan bisnis kaum kapitalis. Bahkan saat ini segelintir kaum adam pun mulai terjebak dalam gaya hidup yang agak feminin (ke salon, perawatan, memakai produk perawatan tubuh dan wajah untuk menunjang penampilan), wooooow.

Kembali kepada konsep cantik, seandainya cantik identik dengan putih, mulus dan berrambut lurus, alangkah malangnya mereka yang terlahir menjadi orang papua, atau orang kulit hitam, tentu dengan kriteria tersebut, perempuan-perempuan papua atau kulit hitam tidak ada yang cantik. Hmm, kalaupun mereka memakai pemutih berkilo-kilo kulit mereka ga akan putih tuh, terus apa mereka mau terlahir jadi kulit hitam....di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa kita pilih ketika kita lahir, termasuk salah satunya ras, warna kulit, cantik atau jelek, hidung mancung dan pesek dan juga orang tua. Kalau setiap orang bisa milih tentunya akan memilih terlahir berkulit putih, jadi anak milyuner, terlahir cantik dan berhidung mancung. Tapi sekali lagi itu semua bukan pilihan. Sama halnya ketika seorang terlahir menjadi seorang anak pemulung siapapun tentunya tidak ingin terlahir dalam keadaam seperti itu.

So? apakah dengan demikian seorang muslimah ga harus cantik? Hmm bagaimanapun islam mengakui adanya kesengangan dunia termasuk hal-hal yang terkait dengan kecantikan ini. Bahkan cantik merupakan salah satu dari kriteria yang disyaratkan Rasulullah dalam memilih istri. nah berarti harus cantik. Tapi jangan lupa, cantik bukan yang utama karena kata nabi jika ingin selamat dunia akhirat maka pilihlah yang takwa. Bahkan, Allah pun dalam sekian ayatnya menegaskan bahwa terlepas dia menciptakan laki-laki dan perempuan dari berbagai suku dan bangsa yang paling mulia adalah orang-orang yang paling takwa.

Dalam Islam, perempuan disuruh dandan untuk menyenangkan hati suami (Tau kan kalau suami itu pasti laki-laki, dan sudah sunnatullah bahwa seorang lelaki itu suka dengan wanita, apalagi yang cantik). dan menyenangkan suami adalah suatu ibadah. Nah, sekarang kita bisa mulai bisa menarik suatu benang merah dari hal ini. Antara cantik, taqwa dan ibadah menjadi suatu variabel antara yang ada di antara keduanya. Menjadi cantik adalah sesuatu yang syar'i jika cantik diniatkan untuk menyenangkan hati suami dan ini merupakan suatu ibadah yang akan membawa kepada taqwa. Nah, boleh cantik asal ga sampe boros dan berlebih-lebihan :), karena kalau boros udah bertentangan dengan alquran selain menghabiskan dompet suami.

Ada hal lain, untuk mengurangi dampak negatif kapitalis yang mengeksploitir cantik sehingga kita tidak terjebak dalam gaya hidup yang hedonis dan konsumtif, mungkin kita perlu meredefinisi ulang tentang cantik. Banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari hal ini. salah satunya bagi mereka yang tidak terlahir cantik (menurut pandangan awam) menjadi tidak minder dan menyesali diri (example, kok Tuhan ga adil ya menjadikan saya lebih jelek, dll etc) dan yang kedua, hal ini bisa meningkatkan intelektualitas kaum perempuan sehingga lebih excellence.

Bagaimana kita menilai suatu kecantikan? Mungkin kita bisa melihat bahwa cantik bermula dari hati yang bersih, tulus dan penuh belas kasih. Kebayang ga sih bagaimana seandainya seseorang yang berwajah cantik tapi hatinya penuh dendam dan juga berhati kejam?

Setelah itu kita dapat melangkah ke hal-hal lain, yang merupakan implementasi dari sikap tulus seperti tangan yang suka menolong, bibir yang selalu mengutarakan kata-kata yang baik, mata yang menyiratkan rasa cinta kepada sesama. Hal lain adalah bagaimana seorang perempuan terlihat elegan ketika dia smart dan memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas. Dengan punya banyak pengetahuan dan ketrampilan seorang wanita tidak hanya elegan tapi juga punya sikap, mandiri dan kepribadian. (saya jadi ingat, waktu saya kecil, saya pernah membaca sebuah prinsip seorang bintang film hollywod terkenal, Jodie Foster, menurutnya dia tidak terlalu cantik makanya harus pintar, terus terang kata-kata itu selain membuat saya kagum dengan Jodie, jga memiliki suatu pengaruh yang luar biasa bagi saya untuk bisa pinter karena kalau mau dibandingkan dengan Jodie Foster yang mengaku tidak cantik saya masih jauh lebih tidak cantik, heheheheh). Nah untuk punya keahlian, pengetahuan dan ketrampilan ini bukan bawaan lahir melainkan suatu pilihan yang bisa diusahakan. Tergantung seberapa besar usaha dan kerja keras kita untuk mencapainya.

Apakah hanya cantik saja yang bisa menyenangkan hati suami? Agaknya dijaman yang terus berubah ini, seorang istri selain cantik juga harus pinter. Kenapa? bukankah seorang ibu itu merupakan guru pertama bagi anak-anaknya, bagaimana menghasilkan anak yang cerdas kalau gurunya tidak cerdas. Hanya dengan susu tidak cukup menjadikan seorang anak menjadi cerdas :). Selain itu, menurut MB, suami teman saya, seorang istri juga harus bisa mengikuti perkembangan pemikiran suaminya, kalau ga jangan salahkan kalau suami punya WIL (wanita idaman lain) gara-gara istrinya ga bisa diajak curhat tentang kerjaan dll. Bukankah selingkuh berawal dari curhat? hehheehe, setuju ga?

Monday, April 16, 2007

Depend On

Ketergantungan atau istilah kerennya depend on, pada awalnya mungkin adalah sesuatu yang manusiawi, sunatullah dan fitrah bagi kita sebagai manusia. Dengan berbagai kelemahan kita sebagai manusia kita tidak bisa untuk melakukan segala sesuatunya sendiri - All by my self -. Kita ga bisa menanam padi sendiri untuk kemudian panen sendiri, sehingga untuk beras kita tergantung pada petani, kilang padi, dan juga pedagang. Kita juga ga bisa menangkap ikan sendiri di laut untuk memenuhi kebutuhan kita akan protein sehingga kita juga membutuhkan nelayan. Begitulah dengan keterbatasan kita kita membutuhkan manusia lain. Namun membutuhkan orang lain mungkin akan beda konteksnya dengan bergantung kepada orang lain.

Mungkin akan sangat tipis perbedaan antara kita membutuhkan orang lain dengan bergantung kepada orang lain. Ketika kita bergantung kepada orang lain, kita ga bisa apa-apa ketika orang tempat kita bergantung ga ada. Ibaratkan saja kita bergantung di atas satu cabang pohon jambu, maka ketika cabang itu ditebang maka kita ga bisa lagi bergantung untuk berayun-ayun.

Dalam keseharian, disadari atau tidak mungkin kita telah terjangkiti dengan virus yang namanya tergantung ini. Seperti saya misalnya, ga bisa kerja tanpa musik.....wah bahaya atau seseorang yanng tidak bisa kerja kalau tidak minum kopi atau merokok. Sebagian kita mungkin butuh kopi karena seperti apa yang pernah saya baca, kopi dapat membantu kerja jantung, entah dari apanya saya lupa....mungkin kita juga butuh musik untuk menyeimbangkan otak kita, tapi kalau kita sudah bergantung pada musik atau kopi untuk beraktifitas tentunya bukanlan sesuatu yang baik. bagaimana pun bersikap berlebihan itu bukan sesuatu yang baik dalam segala hal. dan ketika telah ada rasa ketergantungan, maka terjadi kelebihan kebutuhan sehingga terjadilah yang namanya ketergantungan.

Pengalaman saya dalam menjalani suatu hubungan, sejujurnya saya pernah sangat tergantung kepada seseorang. Bagaimana akibatnya? ketika seseorang itu pergi dari kehidupan saya, saya pun harus menata ulang kehidupan sedikit jalan hidup yang porak poranda. Itu konteks individu, dalam konteks kehidupan bernegara pun ketergantungan berdampak tidak baik terutama dalam kemandirian suatu bangsa dalam mengambil suatu keputusan. Mungkin kasus indonesia, bisa jadi contoh :)

Hmmm, yah begitulah. Akhirnya saya pun memiliki suatu pandangan tentang ketergantungan ini, Ketika kita masih kanak-kanak dan belum dewasa kita memang dibenarkan untuk bergantung kepada kepada kedua orang tua kita, namun ketika kita telah dewasa, dan wajib pula bagi kita hukum syara' maka mestinya kita tidak bergantung kepada sesuatu atau sesiapa secara berlebihan, karena di dunia ini tidak abadi, dan satu-satunya yang abadi adalah kembali kepada Allah, sang pencipta. Bukankan dalam surat Al Ikhlas telah berkata Allah bahwa kepada Nyalah tempat bergantung segala sesuatu, bukan kepada sesuatu, dan bukan pula kepada seseorang.

Di sadari atau tidak, ketika kita bergantung kepada selain Allah, maka di situ Allah cemburu, kenapa kita bergantung kepada sesuatu yang Gaharu, kenapa kita bergantung kepada sesuatu yang tidak kekal, sesuatu yang tidak abadi, sesuatu yang tidak pasti? Pada saat inilah sebenarnya kita telah melanggar hak-hak Allah untuk kita cintai dan untuk tidak kita sekutukan dengan apapun. Allahu'alam.

Sebait pintaku ya Allah biarkanlah hanya diriMu tempat aku menggantungkan segala harapan, asa cita-cita, mimpi dan semuaNya, dan kubiarkan diriMu memilihkan apa-apa yang terbaik untukku, setelah aku berusaha untuk memilih yang terbaik untuk suatu keridhoan Mu

Thursday, April 12, 2007

Seberapa besar.............................

Minggu yang lalu, ketika saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman, saya mendapati banyak hal yang jadi bahan pemikiran. Pertama tentang kekesalan saya pada kedisiplinan yang tidak pada tempatnya. Hal ini terjadi ketika saya berada di atas damri yang akan membawa saya ke bandara. Saat itu damri telah penuh, namun mengapa ga berangkat juga, padahal beberapa penumpang memiliki waktu check in yang terbatas. Alasannya waktu keberangkatan damri telah ditetapkan setengah jam sekali. Walah.....kok untuk ginian disiplin sih. Padahal kalau damri sudah penuh, penumpang juga ga bakalan naik terus untuk apalagi nunggu? Hal lainnya adalah pemadaman listrik secara bergilir di kampung halaman saya. Alasannya untuk penghematan dan efisiensi. Hmm kasus yang sama pernah saya hadapi waktu setahun se tengah yang lalu saat saya berada di Makassar. Apakah pernah diperhitungkan berapa kerugian ekonomi yang bakal dialami jika listrik ga nyala. Apakah kerugian itu sama besarnya dengan penghematan yang dilakukan? atau justru lebih besar? Hmmm lantas kalau belum ada penelitian ini mengapa pemerintah melakukan hal ini. Satu hal yang jelas ada di benak saya adalah bahwa hak publik di negara ini sangat tidak diperhatikan. Dari mulai transportasi (darat, laut dan udara), komunikasi, bahkan juga hak hidup mungkin.

Yang saya pahami setelah membaca artikel tentang ekonomi islam, bahwa fungsi negara adalah ntuk menegakkan syariah (ingat 5 maqashid syariah: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta). Sehingga karena negara bertujuan untuk menegakkan syariah maka segala kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat untuk dapat mewujudkan syariah pun harus difasilitasi. Dari sinilah timbul yang namanya sistem jaminan sosial dalam Islam, dimana negara memberikan fasilitas kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan bahkan biaya nikah). Karena ketika kebutuhan2 ini tidak terpenuhi, maka masyarakat tidak dapat terpenuhi, dampaknya masyarakat tidak dapat beribadah dengan tenang, dan syariah pun tidak terwujud.

Di Indonesia, kebutuhan untuk pangan saja sangat susah. Sangking susahnya (harga beras mahal;red) beberapa bagian masyarakat terpaksa makan nasi aking. Kebutuhan beras semakin besar kenapa? Penduduk bertambah, konversi lahan meningkat, dan tidak ada keanekaragaman pangan, karena masyarakat papua yang biasa makan umbi-umbian pun telah dicekoki dengan beras. Dengan lahan yang semakin terbatas dan juga teknologi pertanian yang jalan di tempat sehingga hasil panen segitu-gitu saja, belum lagi karena kondisi lain yang tidak diperhitungkan so, pemerintah pun melakukan impor beras. Namun impor beras pun bukan menjadi jawaban karena toh harga beras masih mahal.

Pangan saja mahal, apalagi sandang apalagi pendidikan. TK aja biayanya selangit, belum lagi kalau sakit. Sampai muncul jargon "orang miskin dilarang sakit". Boro-boro pemerintah menanggung biaya menikah seperti yang dilakukan pada masa jaman pemerintahan Khalifah Umar in Abd Aziz. Sehingga kalau kita lihat banyak orang yang hidup bersama sekian tahun karena ga sanggup menikah, itu dosa siapa? Bagaimana peran pemerintah? Terus bagaimana tanggung jawab kita sebagai makhluk sosial ? Ah rasanya pusing memikirkan ini semua. yang jelas bagi saya saat ini hanya satu: Pemerintah tidak pro rakyat dan artinya juga tidak pro syariah. So?

Banyak hal yang bisa kita lakukan, kita punya wakaf, kita punya zakat, namun seberapa besar itu sudah dialokasikan ntuk masyarakat miskin? seberapa efektif dana-dana CSR telah dikelola untuk kepentingan masyarakat? Dan kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri, seberapa peduli kita kepada masyarakat tidak beruntung d sekeliling kita dan seberapa siap kita berbagi kepada mereka ...........................................

Tuesday, March 27, 2007

Musibah dan Nikmat

Pengantar: Ini merupakan posting tertunda karena berbagai faktor, ya sibuk, ya capek, ya males, dll......berikut isinya. Selamat menikmati

Pagi tadi, selepas subuh saya mendengar acara kuliah subuh. Intinya adalah bagaimana kita memandang musibah itu sebagai sebuah kenikmatan. Menurut ustadz yang menjadi nara sumber, selama ini kita selalu mempersepsikan kenikmatan dengan sesuatu yang enak, menyenangkan seperti kesehatan, uang yang banyak, harta yang berlimpah istri yang cantik, anak yang lucu dll, dan kita tidak pernah berfikir ada apa dibalik kenikmatan yang kita rasakan. Dan setiap kali kita ditimpa oleh suatu musibah seperti sakit, kehilangan atau apapun kita seringkali berburuk sangka dengan semua itu. Padahal Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dia juga orang yang Maha Pemberi, Maha pembuka rezeki dan juga Al Rasyid (sebagaimana di Tabloid Jumat Republikahari ini). Dengan sifat Al Rasid-Nya Allah itu maha tepat perhitungan-Nya. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa perhitungan. Semua yang terjadi itu pasti selalu tepat. Nah inilah yang kemudian menjadi dasar mengapa setiap muslim hendaknya memandang setiap musibah yang terjadi itu sebagai suatu kenikmatan.Terkait dengan musibah, dalam surat Al baqarah ayat 155 - 157 :" Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ;"Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun", mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" Terkait dengan musibah yang banyak terjadi akhir-akhir ini, tentunya tidak lantas menjadikan kita berburuk sangka kepada Allah. Namun saya memandang bahwa apa yang terjadi merupakan wujud rahmat dan kasih sayang Allah. Mungkin selama ini banyak hal yang kita lakukan sehingga mengakibatkan sesuatu yang tadinya seimbang menjadi tidak seimbang. Padahal sesuatu yang tidak seimbang sifatnya tidak akan lama dan akan kembali kepada kondisi keseiambangan kembali, bagaimanapun caranya. Baik dengan cara yang soft ataupun dengan cara yang frontal. Allah sendiri menyukai segala sesuatu yang seimbang. Keseimbangan ini dilihat dari diciptakannya langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, daratan dan lautan semuanya seimbang.Salah satu contoh misalkan banjir atau longsor bisa jadi karena keseimbangan resapan air terganggu. Demikian juga dengan hal lainnya. Dalam contoh kecil, kalau misalkan kita sakit, pasti telah terjadi proses ketidakseimbangan antara asupan kalori dan energi yang dikeluarkan atau antara waktu kerja dengan waktu istirahat dan waktu ibadah.Lantas...yang jelas segala sesuatunya harus dilakukan secara seimbang, proporsional dan pada tempatnya. Seperti hukum ekonomi yang selalu menuju kepada kondisi keseimbangan, lainnya pun demikian. Segala sesuatu nantinya akan menuju kepada proses keseimbangan, karena Tuhan menjadikan segala ciptan Nya pun dalam keseimbangan.

Tentang sukuk

Selasa kemarin, ada diskusi terbatas mengenai sukuk di Ruang Rapat A Gedung Perbendaharaan IV, di lapangan Banteng. Diskusi ini dikatakan terbatas karena memang hanya dihadiri oleh orang-orang pilihan dari institusi syariah seperti bank, asuransi, reksadana dan juga beberapa organisasi seperti MES, IAEI dan termasuk juga Asbisindo. Beberapa pegawai di lingkungan departemen keuangan juga turut. Ada 2 pembicara dalam rapat terbatas ini, pertama adalah Dirjen Pembiayaan Negara, Bapak Dahlan Siamat, dan juga staff pegawai dari HSBC. Menurut Bapak Dahlan Siamat, saat ini draft undang-undang sukuk telah disampaikan kepada Komisi XI DPR, 13 Maret lalu, dan ada optimisme bahwa sukuk akan dapat diterbitkan di tahun ini. Setelah hampir setahun sukuk, keberadaan undang-undang sukuk menjadi pertanyaan banyak orang. SEmentara itu, dari pihak HSBC menjjelaskan bagaimana prospek sukuk dalam negeri dan internasional. Perkembangan sukuk sangat cepat, sebagai data dipaparkan bahwa pada tahun 2002, penerbitan sukuk hanya berjumlah US $ 5 milyar , dan pada tahun 2006, jumlah ini meningkat menjadi US$16 milyar bahkan pertumbuhannya mencapai pertahunnya. Bbrapa negara yang menjadi client dari HSBC dalam penerbitan sukuk antara lain Malaysia, Qatar, Bahrain, Pakistan, Jerman, Brunei dengan skim yang paling banyak digunakan adalah skim ijarah. Sukuk dengan struktur pembiayaan ijarah merupakan paling banyak dipakai, walau saat ini sukuk dengan skim musyarakah, ijarah, itishna, istihmar.
Beberapa hal yang menarik dari diskusi ini muncul setelah adanya tanya jawab antara peserta dengan pihak penyaji. Ada yang nyeletuk " PAk, gimana kalau pemerintah langsung menerbitkan sukuk tanpa menunggu UU disyahkan DPR, perbankan syariah tanpa UU juga bisa..... Ini langsung dikomentari oleh Pak Dahlan Siamat, dia bilang tidak bisa blabla bla. Pak Adiwarman Karim yang kebetulan hadir di sana bilang bahwa keberadaan sukuk berbeda dengan perbankan syariah. kalau di sukuk, jelas kepentingan negara yang diperjuangkan, sedangkan dalam perbankan syariah masih ada pasal-pasal yang menjadi kontroversial. Yah sudahlah..apapun kita berharap UU SUKUK akan segera keluar karena potensi sukuk sebagai sumber pembiayaan negara sangat besar. Saat ini penggemar sukuk tidak hanya berasal dari Timur Tengah namun juga Eropa dan Asia. Bahkan menurut data yang terkumpul, di atas 50% sukuk yang diterbitkan merupakan sukuk yang diterbotkan oleh Malaysia dalam mata uang ringgit, kemana Indonesia.
Tapi satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya adalah kenapa sukuk harus diganti dengan surat berharga syariah nasional? apakah bangsa ini pobhia dengan kata-kata berbau arab? Bukankah sukuk adalah kata yang sudah diakui internasional, simple dan lagian bukankan banyak bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa arab seperti ilmu, hayat, rejeki dll....atau mungkin bener kata temen saya, orang Indonesia kampungan......husssssshhhh :)

Saturday, March 24, 2007

Moneterisasi

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa juga menuliskan satu dua kata di dalam blog tercinta ini. Hmm, moneterisasi ini adalah kata yang pernah diucapkan oleh seorang teman saya ketika dia sedang kesel-keselnya dengan seseorang yang selalu mengukur segala sesuatunya dari uang. Untuk berteman saja, lihat-lihat dulu apakah si teman akan membawa keuntungan apa tidak. Apalagi untuk diajak dalam suatu kegiatan yang sifatnya sosial ataupun dimintain tolong, jangan harap orang ini akan mau melakukannya kalau tidak ada iming-iming uang atau manfaat yang sifatnya dunia. Mungkin bagi mereka orang-orang yang suka melakukan praktik moneterisasi ini, melakukan sesuatu yang tidak dibayar atau tidak ada pamrihnya adalah sesuatu yang "wastinig time".
Siang ini, entah mengapa kalimat itu keluar lagi dari bibir saya, ketika seorang teman merasa bahwa seorang wanita itu hanya melihat pria dari kantongnya. Huah...tentu saja saya marah besar. Kontan saya bilang, tidak bisa digeneralisir gitu dong.......tiap orang beda. Tiap orang punya preferensi tertentu. Mungkin ada orang-orang yang memang segala sesuatunya dilihat dari kondisi financialnya,tapi tidak semua orang. Saya justru sangat tidak suka dengan sifat seperti itu meskipun saya wanita.....Tapi anehnya teman saya tadi malah marah, dan justru menganggap saya orang yang pesimis dalam memandang hidup. Betulkah? Hihihihi, saya tertawa di dalam hati...sambil berucap (kalau saya termasuk orang yang suka memoneterisasisegala sesuatu pasti ga nongkrong di PSTTI kali ya...hehheeh) Kalau dikatakan pesimis tidak juga. Saya selalu semangat dalam melakukan banyak hal, saya tetap bekerja, berusaha dan berdoa untuk yang terbaik. Saya tetap merencanakan masa depan saya dengan sebaik-baiknya. Dan saya sangat yakin bahwa dengan melakukan sesuatu dengan baik berarti kita akan profesional, dan ketika kita profesional, uang akan datang dengan sendirinya. Kondisi ini akan menjadi terbalik, manakala uang yang menjadikan motivasi bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Apalagi bagi seorang muslim. Karena bagi seorang muslim sudah sangat jelas, bahwa Allah akan menjadikannya sebagai seorang khalifah dibumi yang berkewajiban untuk memakmurkan bumi. Sehingga hukum bekerja dan berproduktifitas adalah kewajiban. Motivasinya tidak hanya materi namun juga sangat jangka panjang yang meliputi alam dunia dan akhirat yang diwujudkan dalam sebuah bentuk ibadah. Masalah hasil, biarlah Allah yang menentukan. Saya selalu percaya bahwa rejeki saya sudah ada, ga tertukar dan ga salah alamat....Itu pasti! Jadi., bagi saya ga perlu mengukur segala sesuatunya dari uang alias memoneterise segala sesuatu yang kita lakukan. Lagian dalam AL Quran Allah telah mengatakan bahwa "kalau kita berbuat baik, maka kebaikan itu untuk kita, dan jika kita melakukan kejahatan, maka kejahatan juga untuk kita". So,.......berbuat sesuatu dengan ikhlas dan tidak mengharapkan embel2 apa2 mungkin lebih wise ya.....

Monday, March 05, 2007

Kejujuran dalam berbisnis

Tadi pagi saya mendengar acara bincang pagi di sebuah radio swasta di jakarta. Kebetulan setiap selasa membahas masalah marketing yang nara sumbernya adalah Reza Syarif. Tadi pagi beliau memaparkan bagaimana menjadikan pelanggan tidak hanya sampai pada tataran loyal tapi juga pada tingkat fanatik. Salah satu contohnya adalah majalah sabili. Menurut beliau majalah ini memiliki sejumlah pelanggan yang tidak hanya loyal tapi fanatik. Dimana salah satu kuncinya adalah dengan melakukan edukasi. Tapi bagi saya bukan itu yang menarik. namun paparannya tentang top CEO dunia yang seluruhnya orang Amerika. Menurutnya mereka terpilih karena integritas yang dalam bahasa indonesianya kira-kira sama dengan kejujuran. Meskipun integritas lebih tinggi dari jujur, namun kejujuran tidak bisa diabaikan dalam berbisnis. Kejujuran juga sikap yang dicontohkan nabi ketika dia berkarir sebagai pedagang yang dipercayakan mengelola barang dagangan Khadijah. sehingga dengan kejujurannya ia pun dijuluki al amiin. Kembali kepada sikap jujur. Saya bahkan semua orang selalu berharap akan berkah dari Allah. Mendapat rahmatnya, limpahan rzkinya. Tapi kemudian saya berfikir "bagaimana berkah Allah, rahmat Allah dan limpahan karunia Nya akan turun kalau dalam tindakan kita banyak ketidakjujuran, banyak korupsi, kebohongan dan lainnya. Terlepas dari Allah Maha Pemberi Karunia dan Maha Pemberi Rahmat.....